LAPORAN KIMIA
Sabtu, 12 Maret 2016
Senin, 05 Mei 2014
PERSAMAAN NERNST KIMIA FMIPA UNSYIAH
PERSAMAAN NERNST
ABSTRAK
Telah dilakukan percobaan yang judul “ Persamaan Nerst “ dengan tujuan
untuk menyusun dan mengukur gaya gerak listrik sel elektrik (sel elektrokimia)
dan mencoba menguji persamaan Nernst. prinsip dari percobaan ini mengunakan analisa kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan metode sel volta. Hasil yang didapatkan larutan elektrolit
yang digunakan adalah CuSO4 dan ZnSO4 . Menghasilkan E sel
yang cukup besar untuk persamaan Nernst. Berdasarkan dari
hasil eksperimen yang telah dilakukan, didapatkan bahwa konsentrasi
mempengaruhi E sel reaksi.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Walther Hermann Nernst (25 Juni 1864 – 18 November 1941) adalah kimiawan Jerman yang
menerapkan asas-asas termodinamika ke sel listrik. Ia menciptakan sebuah persamaan yang dikenal sebagai persamaan Nernst, yang menghubungkan voltase sel ke
propertinya. Lepas dari Joseph
Thomson, ia menjelaskan mengapa senyawa terionisasi dengan
mudah dalam air. Penjelasan ini, disebut aturan Nernst-Thomson, menyatakan bahwa sulit halnya bagiion yang
ditangkap untuk menarik satu sama lain melalui insulasi molekul air, sehingga terdisosiasi. Nernst dianugerahi Hadiah Nobel Kimia 1920 untuk
penemuannya pada Hukum Ketiga
Termodinamika, yang menyatakan bahwa entropi mencapai
minimum karena suhu mendekati nol mutlak. Ia juga menciptakan lampu Nernst.
1.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari
percoban ini adalah menyusun dan
mengukur gaya gerak listrik sel elektrik (sel elektrokimia) dan mencoba menguji
persamaan Nernst.
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Jika suatu zat terlarut dilarutkan
dalam dua pelarut yang tidak saling bercampur,
rasio fraksi mol zat terlarut dalam dua pelarut pada kesetimbangan adalah suatu
konstanta K, yakni: Dimana K2, K’2 adalah konstanta Henry dalam dua
pelarut, X2 dan X’2 fraksi mol zat terlarut masing-masing
dalam dua pelarut. Hubungan di atas dapat juga dinyatakan dalam batasan satuan
konsentrasi, misalnya satuan molaritas (Mansyur, 1990).
Kasus
khusus pada persamaan Nernst mempunyai arti penting dalam elektrokimia.
Andaikan reaksi sudah mencapai kesetimbangan, maka Q = K, dengan K sebagai
kosntanta kesetimbangan reaksi sel. Walaupun demikian, reaksi kimia pada
kesetimbangan tidak dapat melakukan kerja, sehingga menghasilkan beda potensial
nol antara kedua elektroda sel galvani. Oleh karena itu, dengan menentukan E =
0 dan Q = K dan persamaan Nernst, menghasilkan(kartohadiprodjo, 1994).
Elektrokimia
adalah cabang ilmu yang mempelajari hubungan antara energi listrik dan reaksi
kimia. Dasar elektrokimia adalah reaksi redoks yaitu serah terima elektron dari
suaatu pereaksi ke pereaksi lain. Sel elektrokimia adalah alat khusus yang
dapat membuat interaksi energi kimia dengan energi listrik (syukri, 1997).
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1
Alat
dan Bahan
Alat-alat yang digunakan
adalah : Logam cu dan Fe, cawan electroplating, ampelas, stop watch, sumber
arus listrik variasi AC dan multimter dan timbangan analitik. Bahan-bahan
yang digunakan adalah : Kristal CuSO4 dan aquadest.
3.2 Kostanta Fisik
Bahan
|
BM
|
Tl
|
Td
|
Tinjauan
keamanan
|
(g/mol)
|
(C)
|
(C)
|
||
CuSO4.5H2O
|
159,61
|
200
|
650
|
iritasi
|
ZnSO4.7H2O
|
161,38
|
iritasi
|
||
ZnSO4.7H2O
|
65
|
420
|
906
|
iritasi pada kulit
|
CuSO4
|
159,61
|
200
|
650
|
iritasi
|
3.3 Cara Kerja
Disiapkan
potongan lembaran tembaga dan seng dengan ukuran 6 x 2 cm. Dibersihkan
permukaan lembaran logam tersebut menggunakan kertas amplas. Disiapkan larutan
jenuh amonium nitrat atau kalsium nitrat kurang lebih 10-20 ml sebagai jembatan
garam. Diambil selembar kertas saring, digulung dandirekatkan menggunakan
selotip pada bagian tengahnya untuk mencegah gulungan terbuka. Disiapkan dua
gelas piala 100ml yang satu siisi dengan 1 M CuSO4 dan satu lagi
diisi dengan ZnSO4. Dicelupan elektroda-elektroda logam dan
dihubungkan dengan kabel. Dicelupkan kertas saring yang digulung tadi dalam
larutsn ammonium nitrat, dihilangklan kelebihan ammonium nitrat dengan kertas
saring lain. Ditempatkan sedemikian rupa sehingga kedua ujung gulungan tercelup
ke dalam larutan yang berada pada kedua gelas piala. Diamati nilai GGL dengan
menggunakan pH meter yang distel pada posisi mV. Dicatat polaritas kedua
elektroda pada pengukuran tersebut dan dicatat suhu larutan. Disiapkan 100ml
larutan 0,1M CuSO4 dengan jalan mengencerkan larutan 1,0 M CuSO4.
Diganti larutan CuSO4 1,0M dengan larutan CuSO4 ,
larutan ZnSO4 jangan diganti. Dicuci dan dibersihkan kembali kedua
elektroda dengan kertas amplas. Diganti jembatan garam dengan yang baru dan
kembali diukur dan dicatat nilai GGL dengan pH meter. Diulang langkah di atas,
tetapi dengan menggunakan larutan CuSO4 yang lebih encer.
BAB
IV
DATA
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Hasil Pengamatan
Anoda
|
Katoda
|
Esel (volt)
|
Zn/Zn(M)
|
Ca/Ca (M)
|
|
0,25
|
0,25
|
0,65
|
0,25
|
0,025
|
0,6
|
0,25
|
0,0025
|
0,6
|
0,25
|
0,00025
|
0,55
|
4.2 Pembahasan
Persamaan nernst
merupakan persamaan yang menyatakan hubungan antara potensial dari sebuah
elektron ion-ion metal dan konsentrasi dari ion dalam sebuah larutan. Pada sel
elektrokimia sederhana, elektron akan mengalir dari anoda ke katoda. Hal ini
akan menimbulkan perbedaan potensial antara kedua elektroda. Perbedaan
potensial akan mencapai maksimum jika tidak ada arus listrik yang mengalir.
Perbedaan maksimum ini dinamakan GGL sel atau Esel pada bagian faktor.
Salah satu faktor yang
mempengaruhi E sel adalah konsentrasi. Persamaan yang menghubungkan konsentrasi
dengan E sel dinamakan persamaan Nernst. Bentuk persamaannya adalah aktivitas dipangkatkan koefisien reaksi. F
adalah tetapan Faraday. N adalah jumlah elektron yang dipertukarkan dalam
reaksi redoks. Reaksi
kimia dapat menghasilkan energi/menyerap energi. Pertukaran energi terjadi
biasanya dalam bentuk panas, tetapi kadang-kadand dengan mengadakan suatu
modifikasi tertentu, energi yang dipertukarkan tersebut bisa diubah dalam
bentuk energi listrik.
Pada
percobaan ini, E sel yang didapat berbeda-beda., yaitu 0,65 V, 0,60V, 0,60V dan
0,55V. Selanjutnya nilai yang didapat berdasarkan eksperimen ini, dibandingkan
dengan nilai secara teoritis. Nilai E sel yang didapat secara teoritis, yaitu
1,1V, 1,0699V, 1,0398V, 1,0097V. Perbedaan ini bisa saja disebabkan karena
ketidak telitian praktikan ketika praktikum atau pun bahan yang telah
terkontaminasi.
BAB
V
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan
yang dapat diambil dari percobaan ini adalah :
- Persamaan nernst melibatkan elektroda potensial sel
- Persamaan nernst dapat diamati pada sel elektrokimia
- Persamaan nernst bergantung pada konsentrasi elektrolit
- E sel yang didapat secara eksperimen berbeda dengan nilai secara teoritis
DAFTAR PUSTAKA
Kartohadiprodjo, 1994, Kimia Fisika, terjemahan
dari Physical Chemistry, oleh P.W. Atkins, Erlangga, Jakarta.
Mansyur, Umar, 1990, Kimia Fisika dan soal-soal,
terjemahan dari Physical Chemistry Trough Problems, oleh Dogra, UI-Press,
Jakarta.
Syukri, 1997, Kimia Dasar, ITB, Bandung.
LAMPIRAN
Anoda :
Zn Zn2+ + 2e E° = 0,76 V
Katoda :
Cu2+ + 2e Cu E
°= 0,34V
Zn + Cu2+ Zn2+ Cu E °sel = 1,1 V
Esel = E°sel – 2,303 ( RT/nf )
q Secara teori
2,303 ( RT/nf ) = 2,303
(8,314 J/mol K) (303K) / (2) (96500C/mol)
= 0,030057J/mol
E sel = 1,1 V – 0,030057
J/C log (0,250) (25) = 1,1V
E sel = 1,1 V – 0,030057
J/C log (0,250) (0,25) = 1,0699V
E sel = 1,1 V – 0,030057
J/C log (0,250) (0,025) = 1,0398V
E sel = 1,1 V – 0,030057
J/C log (0,250) (0,0025) = 1,0097V
q Secara eksperimen
Tabel regresi
log Zn2+ + Cu2+ (x)
|
E sel (y)
|
E sel regresi
|
0
|
0,65
|
0,645
|
1
|
0,60
|
0,615
|
2
|
0,60
|
0,585
|
3
|
0,55
|
0,555
|
Jumat, 02 Mei 2014
ALKALIMETRI (Penentuan Kadar Asam Oksalat dan Bilangan Asam)
ALKALIMETRI
(Penentuan Kadar Asam Oksalat dan
Bilangan Asam)
ABSTRAK
Telah dilakukan
percobaan dengan judul “Alkalimetri (Penentuan kadar asam oksalat dan bilangan
asam)” dengan tujuan adalah untuk menentukan kadar oksalat dan bilangan asam
secara alkalimetri. Prinsip percobaan adalah menghitung kadar asam dan bilangan
asam dari volume basa yang digunakan pada titrasi asam sampai terjadi perubahan
warna larutan (titik akhir titrasi). Hasil yang diperoleh adalah kadar asam
dari 25 ml asam oksalat adalah 0,7. Kadar asam minyak kelapa sawit 5 ml adalah
0,263 gr/ml dan bilangan asamnya sebesar 2,63 gr/ml. Kadar asam dari minyak
kelapa sawit 10 gram adalah 0,49 dan bilangan asamnya sebesar 4,9. Kesimpulan
yang diperoleh dari hasil ini adalah kadar keasaman asam oksalat lebih besar
dari pada minyak kelapa sawit.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kesetimbangan asam-basa suatu topik yang sangat penting
dalam kimia dan bidang-bidang lain yang mempergunakan kimia, seperti biologi,
kedokteran, dan pertanian. Titrasi yang melibatkan asam dan basa digunakan
secara luas dalam pengendalian analitik. Banyak produk komersial dan penguraian
asam-basa mempunyai pengaruh yang penting atas proses-proses metabolisme dalam
sel hidup.
Alkalimetri merupakan salah satu metode titrasi
asam-basa yang sering digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu asam. Metode
alkalimetri merupakan metode reaksi penetralana asam dengan basa. Natrium
hidroksida merupakan basa yang paling lazim digunakan. Alkalimetri merupakan cara
penetralan jumlah basa terlarut atau konsentrasi larutan basa melalui cara titrimetri.
Untuk penentuan titik akhir titrasi alkalimetri adalah dengan terjadinya
perubahan warna. Indikator yang digunakan dalam metode alkalimetri adalah
indikator PP (Phenophtalein).
Suatu larutan bila ditambahkan asam akan turun pH-nya
karena memperbesar konsentrasi H+. Sebaliknya, bila ditambah basa
akan menaikkan pH karena meningkatkan konsentrasi OH-. Seterusnya,
suatu larutan asam atau basa bila ditambah air akan mengubah pH, karena
konsentrasi asam atau basanya akan mengecil
1.2
Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan adalah untuk menentukan
kadar oksalat dan bilangan asam secara alkalimetri.
BAB II
DASAR TEORI
Alkalimetri merupakan cara penetralan
jumlah basa terlarut atau konsentrasi larutan basa melalui titrimetri. Metode
alkalimetri merupakan reaksi penetralan asam dengan basa. Titrasi asam-basa
menetapkan beraneka ragam zat yang bersifat asam dengan basa, baik organik
maupun anorganik. Banyak contoh dalam analitiknya dapa diubah secara kimia
menjadi asam atau basa dan kemudian ditetapkan dengan titrasi (Underwood,
2002).
Indikator asam-basa adalah zat yang
dapat berubah warnanya apabila pH lingkungannya berubah. Misalnya biru brom
timol (bb) dalam larutan asam ia berwarna kuning, tetapi dalam lingkungan
berwarna biru. Warna dalam keadaan asam dinamakan warna asam dan indikator
(kuning untuk bb) sedang warna yang ditunjukkan dalam keadaan basa, setiap
indikator asam-basa mempunyai trayeknya sendiri, demikian warna asam dan
besarnya (Vogel, 1994).
Titrasi asam-basa dapat memberikan
titik akhir yang cukup tajam dan untuk digunakan penggunaan dengan indikator pH
pada titik ekivalen 4-10. Demikian juga titik akhir titrasi akan tajam pada
titrasi asam atau basa lemah jika penetralan adalah basa atau asam kuat
(Mulyono, 2006).
Salah satu metode titrasi adala
alkalimetri, yaitu penetralan asam dengan basa. Kadar suatu larutan basa dapat
ditentukan dengan mengambil volume tertentu larutan asam tersebut dan kemudian
titrasi dengan larutan basa yang konsentrasinya diketahui. Jadi titrasi adalah
penetapan kadar suatu larutan dengan mengambil volume tertentu dengan mengukur
volume suatu pereaksi yang diketahui kadarnya dengan tepat bereaksi dengan
sejumlah tertentu larutan tersebut (Harjadi, 1993).
Temperatur mempengaruhi titrasi asam
basa. pH dan perubahan warna indikator tergantung secara tidak langsung pada
temperatur. Ini disebabkan perubahan kesetimbangan asam basa dengan temperatur.
Ka akan bertambah besar dengan kenaikan temperatur sampai suatu batas tertentu,
kemudian akan turun kembali pada kenaikan labih lanjut (Rivai, 1995).
BAB III
METODELOGI
PERCOBAAN
3.1
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan adalah buret, labu
ukur, pipet volume, erlenmeyer.
Bahan-bahan yang digunakan adalah NaOH
0,1 N, H2C2O4, minyak goreng, indikator PP,
pelarut organik.
3.2
Skema Kerja
a.
Penetapan
kadar asam oksalat (H2C2O4)
Diambil larutan H2C2O4
yang telah disediakan, kemudian dimasukkan dalam labu ukur dan diencerkan
sampai tanda batas. Dipindahkan 25 ml ke dalam erlenmeyer dan ditambahkan 2-3
tetes indikator PP.
Larutan tersebut kemudian dititrasi
dengan larutan NaOH 0,1 N. diulangi sebanyak 3 kali. Dihitung kadar asam
oksalat di dalamnya.
b.
Penetapan bilangan
asam
1)
Diambil 5
ml minyak dan dimasukkan dalam erlenmeyer, kemudian ditambahkan alkohol
sebanyak 15 ml dan dikocok hingga bercampur sempurna. Jika belum larut
sempurna, dipanaskan dalam penangas air. Diteteskan 2-3 tetes indikator PP.
Kemudian dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 N. Dihitung bilangan asam dan kadar
asam.
2)
Diambil 20
gram minyak / lemak dan dimasukkan dalam erlenmeyer 250 ml. Ditambahkan 50 ml
alkohol 95 %, kemudian dipanaskan sampai mendidih ( + 10 menit) dalam
penangas air sambil diaduk. Dititrasi dengan KOH 0,1 , sebelumnya diteteskan
indikator PP. Titrasi dilakukan sampai terbentuk warna merah jambu. Dihitunng
bilangan asam dan kadar asam.
3.3
Konstanta Fisik
No
|
Senyawa
|
Bm
(gr/mol)
|
Td
(0C)
|
Tl
(0C)
|
(gr/cm3)
|
Tk
|
1
|
NaOH
|
40,00
|
1559
|
1557
|
2,13
|
Gangguan saraf
|
2
|
H2C2O4
|
90,00
|
101
|
-
|
1,60
|
-
|
BAB IV
DATA HASIL PENGAMATAN DAN
PEMBAHASAN
4.1
Data Hasil Pengamatan
Data hasil pengamatan yang diperoleh
dari percobaan yang dilakukan adalah sebagai berikut.
a.
Penentuan
kadar asam oksalat (H2C2O4)
H2C2O4 + 2 tetes PP menghasilkan
warna nila atau ungu
(bening) (bening)
b.
Penentuan
bilangan asam
-
Minyak +
alkohol + 4 tetes PP menghasilkan warna merah delima
(Kuning) (bening)
(bening)
-
Minyak +
alkohol 95% + 4 tetes PP menghasilkan warna merah
(Kuning) (bening)
(bening)
4.2
Pembahasan
Titrasi adalah analisa kimia kuantitatif berdasarkan
pengukuran jumlah reagen yagn konsentrasinya diketahui yang diperlukan untuk
bereaksi dengan analit. Metode titrasi yang sering dilakukan adalah metode
asidimeti dan alkalimetri.
Penggunaan indikator pada metode titrasi ini bertujuan
untuk mengamati titik akhir dari suatu titrasi. Titik akhir titrasi adalah
titik pada saat mulai terjadi perubahan warna. Selain dari itu, terdapat juga
titik ekivalen, yaitu titik dalam suatu titrasi di mana jumlah ekuivalen
titrasi sama dengan jumlah ekuivalen analit. Titik akhir titrasi tidak selalu
sama dengan titik ekivalen, tetapi biasanya titik akhir titrasi bisa sedekat
mungkin dengan titik ekivalen. Pada metode alkalimetri yang digunakan adalah
indikator PP.
Perbedaan teori asam asam :
-
Menurut Arhenius
Asam adalah suatu senyawa yang jika dilarutkan dalam air
menghasilkan H+, sedangkan Basa adalah suatu senyawa jika dilarutkan
dalam air menghasilkan OH-
-
Menurut
Browsted – Lowry
Asam adalah senyawa yang berfungsi sebagai donor proton
dalam pasangna asam-basa konjugat, sedangkan basa adalah senyawa yang berfungsi
sebagai aseptor proton dalam pasangan asam-basa konjugat.
-
Menurut
Lewis
Asam adalah atom yang berperan sebagai penerima pasangan
elektron (berdasarkan struktur rumus lewis), sedangkan basa adalah atom yang
berperan sebagai penyumbang pasangan elektron (berdasarkan struktur rumus
lewis).
Dari percobaan yang telah dilakukan, maka dapat dilihat
bahwa telah terjadi penetralan asam dengan larutan standar basa yang disebut
dengan alkalimetri maupun penetralan basa dengan larutan standarnya asam yang
disebut dengan asidimetri. Sampel asam yang akan ditetapkan kadar asamnya
adalah H2C2O4 dengan larutan standarnya NaOH.
Kemudian ditambahkan 2 tetes PP sebagai indikator untuk penentuan titik akhir
titrasi. Titik akhir titrasi merupakan suatu keadaan yang dicapai pada saat
larutan mengalami perubahan warna dari bening menjadi ungu. Bila suatu larutan
ditambah basa atau OH-, kesetimbangan air bergeser ke kanan.
Akibatnya (H+) berkurang. Kekurangan ini akan menyebabkan
kesetimbangan asam bergeser ke kanan akhirnya (H+) relatif sama
dengan semua. Namun jika ditambahkan asam atau H+, kesetimbangan
asam akan bergeser ke kiri, sehingga kesetimbangan air tidak terganggu. Artinya
(H+) akan tetap seperti semula.
Pada penetapan bilangan asam, sampel yang akan dititrasi
adalah minyak kelapa sawit. Perubahan warna ditunjukkan pada saat volume 0,5 ml
dari warna kuning menjadi merah delima. Inilah titik ekivalennya yaitu titik
pada saat jumlah ekuivalennya titran sama dengan jumlah ekuivalen analit.
BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah
dilakukan, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1.
Kadar asam
dari 0,5 ml asam oksalat yang dititrasi dengan NaOH adalah 0,7
2.
Kadar asam
dari 5 ml minyak kelapa sawit yang dititrasi dengan NaOH adalah 0,263 gr/ml dan
bilangan asamnya adalah 2,63 gr/ml
3.
Kadar asam
dari 10 gr minyak kelapa sawit yang dititrasi dengan KOH adalah 0,49 dan
bilangan asamnya adalah 4,9
4.
Kadar asam
dari asam oksalat lebih tinggi dari pada minyak kelapa sawit
5.
Semakin
banyak volume minyak kelapa sawit yang ditambahkan, semakin besar bilangan asam
dan kadar asam dari sampel yang dititrasi
DAFTAR
PUSTAKA
Harjadi, 1993, Ilmu Kimia Analitik Dasar, Gramedia, Jakarta.
Mulyono, 2006, Kamus Kimia, Bumi Aksara, Jakarta.
Pudjaatmaka, A.H, 2002, Buku Ajar Vogel : Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik,
terjemahan dari Vogel’s text book of Qualitative Inorganic Analysis Including
Elementary Instrumental Analysis oleh J.Basset, dkk, Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.
Rivai, 1995, Asas Pemeriksaan Kimia, UI Press, Jakarta.
Sopyan, Lis, 1999, Analisis Kimia Kuantitaif, terjemahan dari Quantitative Analysis
oleh R. A Day, Jr dan A. L Underwood, Erlangga, Jakarta
Langganan:
Postingan (Atom)