PERSAMAAN NERNST
ABSTRAK
Telah dilakukan percobaan yang judul “ Persamaan Nerst “ dengan tujuan
untuk menyusun dan mengukur gaya gerak listrik sel elektrik (sel elektrokimia)
dan mencoba menguji persamaan Nernst. prinsip dari percobaan ini mengunakan analisa kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan metode sel volta. Hasil yang didapatkan larutan elektrolit
yang digunakan adalah CuSO4 dan ZnSO4 . Menghasilkan E sel
yang cukup besar untuk persamaan Nernst. Berdasarkan dari
hasil eksperimen yang telah dilakukan, didapatkan bahwa konsentrasi
mempengaruhi E sel reaksi.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Walther Hermann Nernst (25 Juni 1864 – 18 November 1941) adalah kimiawan Jerman yang
menerapkan asas-asas termodinamika ke sel listrik. Ia menciptakan sebuah persamaan yang dikenal sebagai persamaan Nernst, yang menghubungkan voltase sel ke
propertinya. Lepas dari Joseph
Thomson, ia menjelaskan mengapa senyawa terionisasi dengan
mudah dalam air. Penjelasan ini, disebut aturan Nernst-Thomson, menyatakan bahwa sulit halnya bagiion yang
ditangkap untuk menarik satu sama lain melalui insulasi molekul air, sehingga terdisosiasi. Nernst dianugerahi Hadiah Nobel Kimia 1920 untuk
penemuannya pada Hukum Ketiga
Termodinamika, yang menyatakan bahwa entropi mencapai
minimum karena suhu mendekati nol mutlak. Ia juga menciptakan lampu Nernst.
1.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari
percoban ini adalah menyusun dan
mengukur gaya gerak listrik sel elektrik (sel elektrokimia) dan mencoba menguji
persamaan Nernst.
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Jika suatu zat terlarut dilarutkan
dalam dua pelarut yang tidak saling bercampur,
rasio fraksi mol zat terlarut dalam dua pelarut pada kesetimbangan adalah suatu
konstanta K, yakni: Dimana K2, K’2 adalah konstanta Henry dalam dua
pelarut, X2 dan X’2 fraksi mol zat terlarut masing-masing
dalam dua pelarut. Hubungan di atas dapat juga dinyatakan dalam batasan satuan
konsentrasi, misalnya satuan molaritas (Mansyur, 1990).
Kasus
khusus pada persamaan Nernst mempunyai arti penting dalam elektrokimia.
Andaikan reaksi sudah mencapai kesetimbangan, maka Q = K, dengan K sebagai
kosntanta kesetimbangan reaksi sel. Walaupun demikian, reaksi kimia pada
kesetimbangan tidak dapat melakukan kerja, sehingga menghasilkan beda potensial
nol antara kedua elektroda sel galvani. Oleh karena itu, dengan menentukan E =
0 dan Q = K dan persamaan Nernst, menghasilkan(kartohadiprodjo, 1994).
Elektrokimia
adalah cabang ilmu yang mempelajari hubungan antara energi listrik dan reaksi
kimia. Dasar elektrokimia adalah reaksi redoks yaitu serah terima elektron dari
suaatu pereaksi ke pereaksi lain. Sel elektrokimia adalah alat khusus yang
dapat membuat interaksi energi kimia dengan energi listrik (syukri, 1997).
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1
Alat
dan Bahan
Alat-alat yang digunakan
adalah : Logam cu dan Fe, cawan electroplating, ampelas, stop watch, sumber
arus listrik variasi AC dan multimter dan timbangan analitik. Bahan-bahan
yang digunakan adalah : Kristal CuSO4 dan aquadest.
3.2 Kostanta Fisik
Bahan
|
BM
|
Tl
|
Td
|
Tinjauan
keamanan
|
(g/mol)
|
(C)
|
(C)
|
||
CuSO4.5H2O
|
159,61
|
200
|
650
|
iritasi
|
ZnSO4.7H2O
|
161,38
|
iritasi
|
||
ZnSO4.7H2O
|
65
|
420
|
906
|
iritasi pada kulit
|
CuSO4
|
159,61
|
200
|
650
|
iritasi
|
3.3 Cara Kerja
Disiapkan
potongan lembaran tembaga dan seng dengan ukuran 6 x 2 cm. Dibersihkan
permukaan lembaran logam tersebut menggunakan kertas amplas. Disiapkan larutan
jenuh amonium nitrat atau kalsium nitrat kurang lebih 10-20 ml sebagai jembatan
garam. Diambil selembar kertas saring, digulung dandirekatkan menggunakan
selotip pada bagian tengahnya untuk mencegah gulungan terbuka. Disiapkan dua
gelas piala 100ml yang satu siisi dengan 1 M CuSO4 dan satu lagi
diisi dengan ZnSO4. Dicelupan elektroda-elektroda logam dan
dihubungkan dengan kabel. Dicelupkan kertas saring yang digulung tadi dalam
larutsn ammonium nitrat, dihilangklan kelebihan ammonium nitrat dengan kertas
saring lain. Ditempatkan sedemikian rupa sehingga kedua ujung gulungan tercelup
ke dalam larutan yang berada pada kedua gelas piala. Diamati nilai GGL dengan
menggunakan pH meter yang distel pada posisi mV. Dicatat polaritas kedua
elektroda pada pengukuran tersebut dan dicatat suhu larutan. Disiapkan 100ml
larutan 0,1M CuSO4 dengan jalan mengencerkan larutan 1,0 M CuSO4.
Diganti larutan CuSO4 1,0M dengan larutan CuSO4 ,
larutan ZnSO4 jangan diganti. Dicuci dan dibersihkan kembali kedua
elektroda dengan kertas amplas. Diganti jembatan garam dengan yang baru dan
kembali diukur dan dicatat nilai GGL dengan pH meter. Diulang langkah di atas,
tetapi dengan menggunakan larutan CuSO4 yang lebih encer.
BAB
IV
DATA
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Hasil Pengamatan
Anoda
|
Katoda
|
Esel (volt)
|
Zn/Zn(M)
|
Ca/Ca (M)
|
|
0,25
|
0,25
|
0,65
|
0,25
|
0,025
|
0,6
|
0,25
|
0,0025
|
0,6
|
0,25
|
0,00025
|
0,55
|
4.2 Pembahasan
Persamaan nernst
merupakan persamaan yang menyatakan hubungan antara potensial dari sebuah
elektron ion-ion metal dan konsentrasi dari ion dalam sebuah larutan. Pada sel
elektrokimia sederhana, elektron akan mengalir dari anoda ke katoda. Hal ini
akan menimbulkan perbedaan potensial antara kedua elektroda. Perbedaan
potensial akan mencapai maksimum jika tidak ada arus listrik yang mengalir.
Perbedaan maksimum ini dinamakan GGL sel atau Esel pada bagian faktor.
Salah satu faktor yang
mempengaruhi E sel adalah konsentrasi. Persamaan yang menghubungkan konsentrasi
dengan E sel dinamakan persamaan Nernst. Bentuk persamaannya adalah aktivitas dipangkatkan koefisien reaksi. F
adalah tetapan Faraday. N adalah jumlah elektron yang dipertukarkan dalam
reaksi redoks. Reaksi
kimia dapat menghasilkan energi/menyerap energi. Pertukaran energi terjadi
biasanya dalam bentuk panas, tetapi kadang-kadand dengan mengadakan suatu
modifikasi tertentu, energi yang dipertukarkan tersebut bisa diubah dalam
bentuk energi listrik.
Pada
percobaan ini, E sel yang didapat berbeda-beda., yaitu 0,65 V, 0,60V, 0,60V dan
0,55V. Selanjutnya nilai yang didapat berdasarkan eksperimen ini, dibandingkan
dengan nilai secara teoritis. Nilai E sel yang didapat secara teoritis, yaitu
1,1V, 1,0699V, 1,0398V, 1,0097V. Perbedaan ini bisa saja disebabkan karena
ketidak telitian praktikan ketika praktikum atau pun bahan yang telah
terkontaminasi.
BAB
V
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan
yang dapat diambil dari percobaan ini adalah :
- Persamaan nernst melibatkan elektroda potensial sel
- Persamaan nernst dapat diamati pada sel elektrokimia
- Persamaan nernst bergantung pada konsentrasi elektrolit
- E sel yang didapat secara eksperimen berbeda dengan nilai secara teoritis
DAFTAR PUSTAKA
Kartohadiprodjo, 1994, Kimia Fisika, terjemahan
dari Physical Chemistry, oleh P.W. Atkins, Erlangga, Jakarta.
Mansyur, Umar, 1990, Kimia Fisika dan soal-soal,
terjemahan dari Physical Chemistry Trough Problems, oleh Dogra, UI-Press,
Jakarta.
Syukri, 1997, Kimia Dasar, ITB, Bandung.
LAMPIRAN
Anoda :
Zn Zn2+ + 2e E° = 0,76 V
Katoda :
Cu2+ + 2e Cu E
°= 0,34V
Zn + Cu2+ Zn2+ Cu E °sel = 1,1 V
Esel = E°sel – 2,303 ( RT/nf )
q Secara teori
2,303 ( RT/nf ) = 2,303
(8,314 J/mol K) (303K) / (2) (96500C/mol)
= 0,030057J/mol
E sel = 1,1 V – 0,030057
J/C log (0,250) (25) = 1,1V
E sel = 1,1 V – 0,030057
J/C log (0,250) (0,25) = 1,0699V
E sel = 1,1 V – 0,030057
J/C log (0,250) (0,025) = 1,0398V
E sel = 1,1 V – 0,030057
J/C log (0,250) (0,0025) = 1,0097V
q Secara eksperimen
Tabel regresi
log Zn2+ + Cu2+ (x)
|
E sel (y)
|
E sel regresi
|
0
|
0,65
|
0,645
|
1
|
0,60
|
0,615
|
2
|
0,60
|
0,585
|
3
|
0,55
|
0,555
|
bg,,krenlah,,,postingannya bisa muncul di halaman pertama
BalasHapusMungkin karena waktu udah lama ulfa hehe
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hapus